|
- Analisis kebijakan telah dijelaskan di bab ini an bab I sebagai proses untuk menghasilkan pengetahuan mengenai tentang dan dalam proses pembuatan kebijakan. Dengan mempertimbangkan tiga dimensi penggunaaan pengetahuan yang disajikan di Bab I, masalah apa yang timbul jika upaya-upaya dilakukan untuk membuat analis kebijakan berada “dalam” proses pembuatan kebijakan ?
- Kembali lagi ke Bab 1, apa yang menurut Saudara akan terjadi jika analis kebijakan menggunakan “multiplisme kritis “ jika klien mereka adalah pengambil kebijakan yang mengharapkan analis untuk melegitimasikan posisi mereka dengan menciptakan kesan pengambilan keputusan yang “ilmiah”.
- Salah satu pandangan mengenai organisasi adalah bahwa organisasi merupakan “anarki yang terorganisasi” atau “tong sampah” yang menemukan pilihan melalui aksi ketimbang melakukan aksi berdasarkan pilihan yang dibuat sebelumnya. Organisasi, menurut pandangan ini, keputusan yang tepat, solusi mencari isu yang mungkin merupakan jawabannya, dan mengambil keputusan mencari pekerjaan” (Michael Cohen, James March, dan Johan Olsen.” A Garbage Can Model of Organizational Choice,” Administration Quarterly 17(Maret 1972), hal.2). Tunjukkan sejumlah cara yang membuat analisis dapat memperbaiki organisasi semacam ini. Jelaskan jawaban Saudara.
- Carol Weiss dan kawan-kawan (lihat Daftar Bacaan Bab 1) mempertentangkan beberapa penjelasan yang relevan dengan kebijakan mempengaruhi pengambilan kebijakan: [a] model dorongan pengetahuan (knowledge driven) yang berpendapat bahwa pengetahuan baru berpengaruh kuat terhadap keputusan kebijakan, [b] dorongan keputusan (decision-driven) yang menyatakan bahwa kebutuhan akan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan berpengaruh kuat terhadap penciptaan pengetahuan baru, dan [c] model interaksi social memandang ada interaksi yang terus menerus antara berbagai sumber pengetahuan dan berbagai pengambil keputusan. Bagaimana ketiga model diatas membantu mengevaluasi kegunaan relatif dari perspektif “ bimbingan teknokratis” dan “konseling teknokratis”?.
- Pertumbuhan analisis kebijakan dipandang sebagai tanggapan terhadap masalah praktis dan krisis. Dengan mempertimbangkan situasi mutakhir di Negara ini dan Negara-negar lain, apakah saudara memperkirakan terjadinya pertumbuhan yang lebih jauh? Penurunan ? Tunjukkan alas an dari jawaban Saudara.
- Apakah pandangan masyarakat pasca industri benar dan berguna?Jelaskan jawaban Saudara.
- Analisis kebijakan dijelaskan sebagai proses empat tahap yaitu analisis, pengembangan, komunikasi, dan utilisasi (Bab 1). Proses ini tampaknya mengasumsikan adanya proses penalaran alat-tujuan (“penalaran instrumental”) dimana tujuan menghalalkan cara. Jika analisis adalah cara, apakah tujuannya? Jelaskan jawaban saudara. [ Catatan : Pertanyaan memerlukan definisi tujuan analisis kebijakan.]
JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN :
1. Tiga dimensi utama pemanfaatan pengetahuan:
1) Komposisi pengguna. Analisis kebijakan digunakan oleh individu atau kesatuan kolektif , misalnya, badan, biro, atau lembaga perwakilan. Jika penggunaan analisis mengandung perolehan (atau kehilangan) dalam pemanfaatan pengetahuan untuk pengambilan keputusan, maka proses pemanfaatan pengetahuan merupakan aspek pengambilan keputusan secara individual (penggunaan individual). Sebaliknya, jika proses pemanfaaatan mengandung pencerahan public atau proses belajar kolektif, penggunaan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan merupakan aspek keputusan kolektif, yaitu kebijakan (penggunaan kolektif).
2) Efek penggunaan. Penggunaan analisis kebijakan memiliki efek kognitif dan perilaku. Efek kognitif dapat berupa penggunaan analisis kebijakan untuk berfikir mengenai masalah dan pemecahannya (penggunaan konseptual), atau mensahkan formulasi masalah dan pemecahan yang diinginkan dengan memanfaatkan otoritas ahli (penggunaan simbolis). Sebaliknya efek perilaku dapat berupa penggunaan analisis kebijakan sebagai alat atau instrumen untuk melakukan aktivitas atau fungsi pengambilan kebijakan (penggunaan instrumental). Penggunaan konseptual dan perilaku terhadap pengetahuan yang relevan dengan kebijakan terjadi pada pengguna individual dan kolektif.
3) Lingkup pengetahuan yang digunakan. Lingkup pengetahuan yang digunakan oleh pengambil kebijakan bervariasi dari khusus ke umum. Penggunaan “ideas in good currency”memiliki lingkup yang umum (penggunaan umum),sementara penggunaan rekomendasi kebijakan tertentu mempunyai lingkup yang khusus (penggunaan husus).Penggetahuan yang bervariasi dalam lingkupnya digunakan oleh individu dan kelompok dengan efek yang bersifat konseptual ataupn perilaku.
Masalah apa yang timbul jika upaya upaya dilakukan untuk membuat analisis kebijakan berada dalam proses pembuatan kebijakan?
Analisis kebijakan adalah suatu aktivitas intelektual yang dilakukan dalam proses politik. Proses ini dapat divisualkan sebagai proses pembuatan kebijakan, yang memiliki lima tahap penting: penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Prosedur analisis kebijakan tertentu tepat untuk menghasilkan informasi pada tahap tertentu dari prose pembuatan kebijakan. Pemanfaatan pengetahuan oleh pelaku kebijakan adalah merupakan proses yang kompleks yang terdiri dari 3 dimensi yang saling bergantung: komposisi pemakai, efek penggunaan, dan lingkup pengetahuan yang digunakan. Interaksi antara tiga dimensi itu menjadi dasar menilai dan memperbaiki peranan analisis kebijakan dalam proses pembuatan kebijakan.
2. Multiplisme Kritis adalah jawaban terhadap tidak memadainya positivism logi sebagai teori pengetahuan dan upaya untuk mengembangkan prosedur baru berlandaskan pada pengalaman yangdipelajari dari melakukan analisis kebijakan selama era “The Great Society”.Multiplisme bukanlah metodologi baru, tetapi merupakan sintesis kreatif dari beragam riset dan praktisk analisis yang disarankan dan dipakai oleh berbagai kalangan komunitas ilmu kebijakan.
3. Perumusan masalah
Perumusan masalah dapat memasok pengetahuan yang relevan dengan kebijakan yang mempersoalkan asumsi-asumsi yang mendasari definisi masalah dan memasuki proses pembuatan kebijakan melalui penyusunan agenda (agenda setting). Perumusan masalah dapat membantu menemukan asumsi-asumsi yang tersembunyi, mendiagnosis penyebab-penyebabnya, memetakan tujuan-tujuan yang memungkinkan memaadukan pandangan-pandangan yang bertentangan dan merancang peluang-peluang kebijakan yang baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
v Peramalan
o Peramalan dapat menyediakan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tentang masalah yang akan terjadi di masa mendatang sebagai akibat dari diambilnya altenatif, termasuk tidak melakukan sesuatu. Ini dilakukan dalam tahap formulasi kebijakan. Peramlan dapat mengaji masa depan yang plausible, potensial, dan secara normative bernilai, mengestimasi akibat dari kebijakan yang ada atau yang diusulkan, mengenali kendala-kendala yang mungkin akan terjadi dalam pencapaian tujuan, dan mengestimasi kelayakan politik (dukungan dan opopsisi) dari berbagai pilihan. Para analis dari The Health Care Finance Administration, misalnya, akhir-akhir ini menerapkan metode peramalan untuk mengestimasi bahwa kecuali jika pendapatan tambahan dapat diupayakan.
v Rekomendasi
o Rekomendasi membuahkan pengatahuan yang relevan dengan kebijakan tentang manfaat atau biaya dari berbagai alternative yang akibatnya di masa mendatang telah diestimasikan melalui peramalan. Ini membantu pengambil kebijakan pada tahap adopsi kebijakan.
v Pemantauan
o Pemantauan atau monitoring menyediakan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tentang akibat dari kebijakan yang diambil sebelumnya. Ini membantu pengambil kebijakan pada tahap implementasi kebijakan. Banyak badan secara teratur memantau hasil dan dampak kebijakan dengan menggunakan berbagai indicator kebijakan di bidang keshatan, pendidiakan, perumahan, kesejahteraan, kriminalitas, dan ilmu dan teknologi.
v Evaluasi
o Evaluasi membuahkan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tentang ketidaksesuaian antara kinerja kebijakan yang diharapkan dengan yang benar-benar diihasilkan. Jadi ini membantu pengambilan kebijakan pada tahap penilaian kebijakan terhadap proses pembuatan kebijakan. Evaluasi tidak hanya menghasilkan kesimpulan mengenai seberapa jauh masalah telah terselesaikan, tetapi juga menyumbang pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian dan perumusan kembali masalah.
3. Terdapat sedikitnya dua cara utama untuk menjelaskan evolusi sejarah analisis kebijakan dari dulu hingga saat ini. Menurut salah satu pendekatan (bimbingan teknokratis) pengtahuan kebijakan adalah sumber daya langka yang kepemilikannya dapat meningkatkan kekuatan dan pengaruh analis kebijakan yang profesional. Pendekatan yang lain (konseling teknokratis) sebaliknya menyatakan bahwa peran utama analis kebijakan adalah untuk mengesahkan keputusan kebijakan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan.
1) Bimbingan teknokratis adalah suatu perspektif dalam evolusi sejarah analisis kebijakan, khususnya sejaka kebangkitan mmasyarakat ”pasca industri”, yang memandang bahwa pengetahuan yang relevan dengan kebijakan semakin menjadi risorsis yang lamgka dimana pemilikannya meningkatkan kekuasaan dan pengsruh dari analisis kebijakan yang profesional.
2) Konseling Teknokratis merupakan suatu perspektif yang memandang bahwa peranan utama dari analisis kebijakan adalah untuk mengesahkan keputusan kebijakan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan yang riil, dimana posisi sosialnya selalu ditentukan oleh kekuasaan, kesejahteraan, dan hak istimewa.
Sebagai kesimpulan, terdapat alasan untuk percaya bahwa pendekatan bimbingan teknokratis mewakili penilaian yang terlalu melebih-lebihkan kekuatan dan pengaruh analis kebijakan yang profesional. Sedangkan pendekatan konseling teknokratis berisi tekanan sepihak. Serta pendekatan bimbingan teknokratis menilai terlalu tinggi pengaruh analisis kebijakan di dalam pembentukan pilihan politik.
5. Ya, akan terjadi pertumbuhan yang jauh, karena dengan adanya penelitian yang dilakukan para ahli melalui serangkaian analisis, diperoleh suatu rumusan pola perilaku kegiatan manusia dalam aktivitasnya di suatu perusahaan atau kantor.
6. Benar dan berguna karena adanya Kontrol Politik, yakni suatu tesis bahwa penelitian yang bersifat empiris, kuantitatif dan berorientasi pada kebijakan merupakan akibat, bukan sebab, dari konsolidasi politik dan kontrol politik yang ditegakkan pada abad ke delapan belas.
Masyarakat Pasca Industri, yakni suatu masyarakat yang didominasi oleh kelas profesional teknis terdidik. Masyarakat pasca Industri mempunyai karakteristik utama : pemusatan pada pengetahuan teoritis, penciptaan teknologi intelektual baru. Masyarakat pasca Industri merupakan perluasan dari masyarakat industri dan berkembang selama dua puluh tahun terakhir ini.
7. Pengkomunikasian pengetahuan yang relevan dengan kebijakan dapat dipandang sebagai proses empat tahap yang melibatkan analisis kebijakan, pembuatan materi, komunikasi interaktif, dan pemanfaatan penetahuan. Analisis kebijakan atas dasar permintaan inforamsi dan nasihat dari pelaku kebijakan pada setiap tahap dari proses pembuatan kebijakan.
Perspektif analisentrik adalah suatu perspektif yang menyatakan bahwa makna anlisis secara implisit dibatasi pada pemilahan suatu masalah ke dalam bagian-bagiannya, yang ditandai dengan nilai-nilai numerik untuk tujuan membandingkan, mengevaluasi, dan menyarankan pemecahan masalah. Perspektif yang sempit ini cenderung mengabaikan pendekatan-pendekatan lain dari analisis kebijakan, termasuk analisis-analisis yang didasarkan pada pemikiran sistem adaptif-kompleks, pendapat pribadi, intuisi, etika, dan argumentasi serta diskursus publik.
